Tampilkan postingan dengan label Derby dalam sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Derby dalam sepakbola. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2011

Derby della Capitale



the Derby della Capitale yang juga dikenal dengan sebutan il Derby Della Capitale, Derby del Cupolone, atau The Rome Derby dalam bahasa Inggris, adalah pertemuan antara tim sepak bola yang berbasis di ibu kota Italia, Roma. SS Lazio dan AS Rioma adalah kedua tim yang dimaksud.
Pertandingan ini telah dinilai sebagai derby paling sengit di Italia dibandingkan derby lokal lainnya seperti Derby della Madonnina (Milan) dan Derby della Mole (Turin), dan telah menjadi salah satu derby ibu kota terbesar dan terpanas di Eropa. Hal ini secara historis telah ditandai dengan kehadiran massa yang besar di stadion, panasnya persaingan, dan tentu saja kekerasan seperti aksi rasis saat pertandingan yang terjadi akhir-akhir ini.
Dua insiden ekstrim telah meninggalkan jejak buruk pada sejarah derby ini. Pada tahun 1979, seorang pendukung Lazio, Vincenzo Paparelli dipukul di bagian mata dan terbunuh oleh mercon yang ditembakkan oleh seorang pendukung Rioma dari ujung stadion. Ia menjadi korban tewas pertama akibat kekerasan di sepak bola Italia, pada derby berikutnya para ultras Lazio membalas dengan membunuh fans Rioma.Pada tahun 2004 sebuah peristiwa yang tak terduga terjadi ketika pendukung ultras Rioma memaksa permainan untuk ditunda setelah tersebar desas-desus palsu bahwa seorang anak telah dibunuh oleh polisi sebelum awal permainan.
Dalam derby terakhir pada bulan Desember 2009 musim lalu, wasit juga terpaksa harus menghentikan pertandingan selama sekitar tujuh menit pada saat pertandingan masih berjalan 13 menit di babak pertama. Pemicunya adalah kembang api yang dilemparkan ultras Lazio ke dalam lapangan.
Pendukung Lazio saat derby Roma
 
RIVALITAS YANG SUDAH MENJADI KEBUDAYAAN
Penduduk Roma sepertinya ingin mengatakan kepada dunia bahwa Derby della Capitale lebih dari sekedar permainan. Klub AS Rioma didirikan sebagai hasil penggabungan dari tiga tim, Roman, Alba-Audace dan Fortitudo, yang merupakan perintah dari rezim fasis yang berkuasa dan diprakarsai oleh Italo Foschi. Hal itu disengaja oleh diktator fasis Benito Mussolini untuk membuat sebuah klub asal Roma yang kuat untuk menantang dominasi klub utara. Namun berkat pengaruh salah satu Jendral Fasis, Giorgio Vaccaro, Lazio memberanikan diri menjadi satu-satunya tim utama dari Roma yang menolak merger tersebut, yang kemudian membuat semacam persaingan dengan AS Roma dari tahun ke tahun.
Pertandingan pertama antara kedua tim diselenggarakan pada tanggal 8 Desember 1929 dan Roma berhasil keluar sebagai juaranya dan persaingan dengan cepat tumbuh di antara kedua tim. Sebenarnya penggemar kedua tim memiliki kesamaan yang dasar yaitu sangat membenci arogansi tim utama Italia bagian utara. Namun karena fakta bahwa Lazio dan Rioma tidak banyak memenangkan piala dibandingkan dengan raksasa dari utara, maka derby ini seperti menjadi pelampiasan bagi mereka untuk membuktikan siapa yang paling dominan di ibukota. Ketidakmampuan mereka untuk dominan di Italia dialihkan untuk menguasai Roma.
Pandangan kedua pendukung yang sempit semakin memperpanas persaingan. Mereka menganggap pertandingan ini sebagai pertempuran antara dua klub untuk memperjuangkan hak untuk mewakili kota-kota di seluruh negara.
Selain itu, penyebab lainnya adalah mengenai asal usul kedua tim. Lazio yang didirikan di distrik Prati pada awalnya berlatih dan bermain di lapangan Rondinella. Sedangkan Roma mulai bermain di Motovelodromo Appio dan kemudian ketika stadion baru mereka selesai dibangun, mereka pindah ke sekitar Testaccio. Hal ini membuat pernyataan ironis, yang dikenal sebagai Sfottò, yang berbicara pada asal usul pendukung kedua tim. Laziale dianggap sebagai orang luar karena mereka diduga berasal dari luar kota Roma. Namun mereka menjawabnya dengan menyatakan bahwa Lazio masuk ke Roma pada tahun 1900, lebih cepat dari AS Rioma yang baru didirikan pada tahun 1927.
Derby Roma juga telah menjadi tempat aksi yang berkaitan dengan politik, sosial dan ekonomi dari beberapa basis pendukung. Kelompok ultras Lazio sering menggunakan swastika dan simbol fasis di spanduk mereka dan mereka telah memperlihatkan perilaku rasis dalam beberapa kesempatan selama pertandingan. Terutama pada derby musim 1998-99 ketika Laziale membentangkan sebuah spanduk berukuran 50 meter bertuliskan, “Auschwitz is your town, the ovens are your houses”. Pemain berkulit hitam dari Roma adalah sasaran dari perilaku rasis dan ofensif tersebut.
Sebuah banner kelompok ultras Lazio juga pernah memajang tulisan “Team of blacks followed by Jews” untuk membalas kelompok ultras Rioma yang sebelumnya mengejek dengan tulisan “Team of sheep followed by shepherds”. Pada tahun 2000 pendukung Lazio menunjukkan dukungan mereka untuk kelompok nasionalis Serbia dan penjahat perang Arkan.
Secara resmi, pihak klub telah menjauhkan diri dari pendukung-pendukung semacam ini, yang membentuk kelompok-kelompok minoritas bergaris keras, dan berjuang untuk memerangi tindakan-tindakan mereka yang merugikan.

KERIBUTAN DI MUSIM SEMI 2004
Derby pada tanggal 21 Maret 2004 terpaksa harus terhenti pada empat menit memasuki babak kedua, dengan skor sementara 0-0, ketika huru-hara pecah di tribun penonton dan presiden Liga Sepakbola Italia, Adriano Galliani, memerintahkan wasit Roberto Rosetti untuk menangguhkan pertandingan.
Kerusuhan, yang diwarnai saling melempar kembang api, dimulai dari penyebaran desas-desus bahwa seorang anak laki-laki tewas tertabrak mobil polisi di luar stadion. Cerita ini cepat menyebar ke para pemain ketika tiga pemimpin kelompok ultras LAZIO berjalan memasuki lapangan untuk berbicara dengan Francesco Totti, kapten Roma. Mereka mengancam Totti, yang terdengar di siaran TV sebagai sebuah ancaman kematian. Totti kemudian meminta untuk menghentikan pertandingan, dan Adriano Galliani yang dihubungi oleh wasit melalui telepon selular dari lapangan akhirnya memerintahkan permainan ditunda.
Setelah itu pertempuran berkepanjangan antara para penggemar dan polisi pun terjadi, beberapa stan yang berdiri dibakar dan orang-orang berlarian keluar stadion. Kerusuhan akhirnya berakhir dengan 13 orang diamankan dan lebih dari 170 polisi mengalami luka-luka. Polisi terpaksa harus memakai gas air mata setelah penggemar terus-terusan melempar kembang api dan mulai membakar mobil dan sepeda motor di luar stadion.
Ternyata rumor kematian anak yang menjadi pemicu kerusuhan itu adalah palsu. Banyak teori muncul untuk menjelaskan mengapa sekelompok ultras menginginkan permainan saat itu dihentikan. Diyakini bahwa ultras hanya ingin menyerang polisi, dan memberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan kekuasaan mereka.
Pertandingan itu diulang pada tanggal 28 Maret dan berakhir imbang 1-1 tanpa terjadi masalah. Hasil imbang tersebut membuat Rioma telah menyia-nyiakan kesempatan terakhir mereka untuk mengejar pemimpin Serie A saat itu AC Milan.

Jumat, 30 September 2011

Pertandingan DERBY paling panas di Dunia

Banyak banged pertandingan bola yang udah kita liat setiap musimnya. Dan diantaranya ada pertandingan yang ngelibatin 2 klub dalam sekota. Yappsss.... ni pertandingan sering disebut dengan DERBY. Sebagaimana kita tau... kalo pertandingan derby tu h yang panas gak cuman yang maen doank... tapi dah merasuk ama suporter2 mereka. Bahkan rasa permusuhan antar pendukung klub sekota sudah nyaris ke tahap hooliganisme. Berikut ni beberapa DERBY Sepak bola yang mencuri perhatian gibol dunia
pendukung as roma
AS Roma vs Lazio
Pada tahun 1977, kelompok minoritas dari fans AS Roma membentuk CUCS (Commando Ultra Curva Sud). N menjelang musim 1999/2000,ni kelompok CUCS berevolusi menjadi ultras Roma. Di lain pihak pendukung Lazio yang menyebut dirinya Commandos Monteverde Lazio muncul pada tahun 1971. Pada tahun 1987 mereka bersatu dengan kelompok lain dan membentuk kelompok yang disebut The Irriducibili. Sejak tahun 1992, The Irriducibili Lazio kelompok pendukung yang paling menonjol. Secara garis besar, Roma ultras mewakili kelas menengah sayap kiri dari pusat kota Roma. N Sebaliknya, The Irriducibili kaya merupakan penduduk pinggiran sayap kanan kota Roma. Kedua fans Lazio dan AS Roma ini saling berbagi tempat di stadion yang sama, Stadion Olimpico. Inilah panggung pertempuran paling panas di kota Roma.


Manchester City vs Manchester United

City dan United telah merupakan salah satu perseteruan paling klasik di Eropa. Kedua klub yang didirikan pada akhir abad 19. Pertemuan di tahun 1993 antara City dan United di Maine Road dianggap salah satu permainan EPL terbesar tahun 90an. United memenangkan pertandingan 2-3 berkat dua gol oleh Cantona dan dan gol telat Keane.
Stretford End di Old Trafford adalah tempat untuk diehard K-Stand fans club.Manchester City juga memiliki penggemar yang tidak kalah fanatiknya.Menjelang akhir kompetisi musim 2001/2002, 106 Fans City ditangkap karena berbuat onar. Ini salah satu penangkapan ketiga terbesar di Inggris untuk urusan suporter bola. Kebanyakan kericuhan suporter di Inggris tidak terjadi di stadion, melainkan kebanyakan terjadi di Bar-bar yang merupakan tempat mereka kongkow setelah nonton bola....


AC Milan vs Internazionale
Baik AC Milan dan Internazionale FC memainkan pertandingan mereka di Stadion San Siro. The Curva Sud adalah rumah bagi Rossoneri dan Curva Nord milik Inter. Kedua klub memang bersaing di kompetisi baik Seri A maupun di Kompetisi Eropa. Secara koleksi gelar, Milan memang berada diatas Inter, Namun beberapa taun terkahir ini Inter lebih berjaya di Seri A.


Red Star vs Partizan
F ans Serbia sangat dipengaruhi oleh ultras Italia meskipun mereka dipengaruhi ama budaya setempat. Di Belgrade, Serbia saat ini, ada sebuah persaingan sengit antara Partizan dan Red Star. Red Star merupakan klub juara Eropa dan Dunia di taon 1991. Pendukung kedua klub mempunyai riwayat permusuhan yang parah. Banyak banged terjadi perkelahian antar dua suporter, baik di dalam maupun di luar stadion.


Levski vs CSKA
Ibukota Bulgaria Sofia merupakan rumah bagi dua klub PFC Levski 1914 dan CSKA. Levski, yang lebih tua dua tain , memiliki basis penggemar yang lebih besar sedangkan CSKA merupakan pengoleksi juara terbanyak. Setiap kali kedua klub bertemu, pihak kemanan selalu memperketat pengamanan pertandingan. Dalam salah satu pertemuan mereka, 1/7 militer negara itu dikerahkan untuk mengatasi potensi kekerasan. Pihak berwenang telah berhati-hati terutama sejak tahun 2001 ketika sebuah insiden bom meledak dan berakibat sangat fatal.




FC Celtic vs Rangers

Skotlandia memiliki kisah hooliganisme yang sangat mengakar. Polisi setempat sekarang ini sudah melakukan pengamanan di setiap pertandingan. Tapi selalu saja terjadi insiden kisruh. Suporter Aberdeen, Celtic dan Glasgow Rangers selalu dihubungkan dengan terjadinya tindak kekerasan. Dua klub terakhir (Celtic dan Rangers) memang selalu menjadi sorotan karena ulah suporternya. Inilah perseteruan dua kelompok suporter yang dilatar belakangi masalah sosial dan agama.


Olympiakos vs Panathinaikos
Athena merupakan arena pertempuran bagi dua klub yaitu Olympiakos dan Panathinaikos. Inilah persaingan terbesar di Liga Yunani. Hooliganisme sering terjadi setiap dua tim bersua. Suporter kedua kubu selalu berkelahi, melempar kembang api dan melempar kursi. Fans Olympiakos terkenal fanatik. Mayoritas mereka berasal dari kaum miskin di kota Athena. Sedangkan Fans Panathinaikos banyak dari kalangan yang kaya.


Boca vs River Plate
Inilah Derby terbesar di Argentina. Boca vs River Plate. Kedua klub didirikan di daerah miskin di Buenos Aires bernama LaBoca. Pada 1930, River Plate pindah ke tempat yang bernama Nunez yang kini dihuni masyarakat kelas menengah ke atas. Disisi lain Boca memiliki basis fans yang lebih besar dan sebagian mereka berasal dari kalangan pekerja.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More