Sabtu, 01 Oktober 2011

Curva north Inter





Setiap klub di dunia pasti memiliki supporter, baik yang biasa-biasa saja sampai supporter yang fanatik.
Di Italia supporter disebut dengan tifosi, dan tifosi yang fanatik disebut dengan Ultras. Ultras dianggap sering menimbulkan masalah baik di dalam maupun di luar stadion seusai pertandingan, terlebih yang pertandingan bernuansa rivalitas.
Namun, ada hal yang menarik mengenai ultras, karena ultras memilikki hak suara untuk ikut menentukan kebijakan klub. Ultras di Italia juga cenderung lebih terorganisir, bahkan menyerupai sebuah organisasi politik.
Inter Milan memiliki ultras ketiga terbesar di Italia setelah Juventus dan A.C Milan (Curva Sud). dan ultras Inter yang terkenal adalah Cuva Nord 69 yang berarti Penghuni Tribun Utara di stadiun Giuseppe Meazza, yang berdiri sejak tahun 1969.


Curva Nord 69
Curva Nord 69 menjadi salah satu kelompok suporter yang paling disegani di Italia. Bukan hanya dari tindakan anarkis mereka di lapangan, tapi juga dari sisi positif. Sudah 40 tahun sejak 1969 mereka mengabdikan dirinya guna menyemangati setiap Inter bertanding. Jelas dengan usia setua itu, pengaruh mereka pun cukup kental. Curva Nord 69 bukan hanya didominasi satu kelompok tifosi saja. Inter memiliki beberapa kelompok Ultras yang selalu setia mendampinginya di setiap laga. Salah satunya Boys S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurre), kelompok Ultras tertua ke dua La Curva Milano setelah Fossa dei Leoni dari Curva Sud. Selain itu, ada juga Ultras Inter, Viking Inter, Brianza Alcoolica, Irriducibili, dan beberapa kelompok minor lain. Mereka inilah yang selalu menyemangati I Nerazzurri.


1. BOYS S.A.N (Squadre d'Azione Nerazzurre)
Kelompok tertua di Curva Nord 69. Berdiri pada 1969. Boys diambil dari nama anak nakal di sebuah komik bernama serupa. Di era 80-an Boys S.A.N kian ditakuti sebagai kelompok yang kerap membuat ulah. Namun, sejak awal 90-an, Boys S.A.N meminimalisir aksi anarkis, dan lebih fokus mengekspresikan fanatisme melalui berbagai koreografi di stadion. Sekadar info, Boys S.A.N terbentuk meneruskan ide pelatih Inter ketika itu, Helenio Herrera yang menginginkan terbentuknya sebuah kelompok suporter yang terorganisir dengan rapi
Website = www.boys-san.it

2. Ultras Inter (Forever Ultras)
Di Curva Nord, Ultras menjadi yang tertua ke dua setelah Boys S.A.N. Mereka berdiri sejak 1975 dengan nama Forever Ultras sebelum diganti pada 1995. Pelopornya adalah dua pemuda bernama Luciano dan Curzio, yang pertama kali memunculkan spanduk bertuliskan Forever Ultras di Curva Nord, tepat berdampingan dengan Boys S.A.N. Sejak 1997, Ivan Renato menjadi sutradara Ultras setelah meneruskan era kepemimpinan sebelumnya.

  3. Viking Inter
Kelompok ketiga di Curva Nord ini terbentuk pada 1984. Viking juga dikenal sebagai salah satu pendukung beraliran sayap kanan paling loyal di Italia. Sayang, mereka kerap bersikap rasis. Kebetulan, Viking memang berhubungan sangat dekat dengan Blood & Honour Varese (kelompok suporter yang menolak anti-rasisme di sepak bola). Viking pun menjadi sangat menonjol di Curva Nord dengan indentitas bendera paling besar di antara suporter Ultras Inter lainnya.
Website=www.vikinginter.com


4. Brianza Alcoolica
Brianza Alcoolica (semangat Brianza) memang baru resmi didirikan pada November 1985. Namun, berbagai spanduk bertuliskan nama kelompok mereka sudah muncul beberapa tahun sebelumnya di Madrid, Spanyol. Dipelopori oleh beberapa orang yang merasa tidak cocok dengan segala kekerasan Curva Nord, Brianza Alcoolica memisahkan diri dengan idealisme mereka untuk menciptakan hiburan di stadion. Mungkin karena itu pula Brianza Alcoolica menjadi kelompok dengan jumlah suporter paling sedikit di antara lima lainnya.
Website=www.brianza-alcoolica.com 

 5. Irriducibili
Irridubicili menjadi kelompok paling kontroversial di antara Ultras Inter lainnya. Berdiri sejak 1988, kelompok ini juga dikenal dengan nama “Skins” ini langsung membuat kericuhan dengan menyerang setiap pendukung lawan yang datang ke Giuseppe Meazza. Ciri khas Irridubicili adalah maskot seekor anjing hitam sebagai lambang kejahatan atau keonaran bernama Muttley. Dengan slogan “Non basta essere Bravi bisogna essere I migliori” (untuk menjadi yang terbaik, tidak cukup dengan bersikap baik), tak heran jika jika Irridubicili kerap berbuat onar di stadion. Bahkan mereka dengan terang-terangan mengaku setiap mendukung Inter, tak akan pernah lepas dari minuman beralkohol.
Website= www.irriducibili-inter.com 

6. Milano Nerazzurri

Kelompok ini memang lebih kecil dibanding Boys SAN atau lainnya. Namun, mereka justru mampu tampil dengan warna-warna mencolok melalui koreografinya di sisi kiri Curva Nord. Milano Nerazzurra juga mendapat julukan “Potere Nerazzurro” atau Si Hitam Biru yang Kuat. Sejak berdiri sekitar akhir 80-an, Milano Nerazzurri memang telah menyatakan ketidakcocokannya dengan saudara tua mereka, Boys SAN. Tak heran jika letak kedua kelompok ini berjauhan, yang satu di sisi kiri, dan yang satunya di sisi kanan.
7. Boys Sez Roma


Meski Boy Sez Roma lahir dari sekelompok laki-laki yang berasal dari Kota Roma, mereka justru merupakan pendukung fanatik Inter Milan. Sejak awal berdiri pada 1979 lalu, kelompok ini memang membatasi anggotanya di usia 18-30 tahun, dan tentunya dengan satu tujuan mendukung Inter Milan. Boy Sez Roma mengambil posisi di sisi kanan Curva Nord dan berhubungan sangat dekat dengan Boys S.A.N.

Curva Sud Roma




     Roma Ultras menempati sisi kurva Sud dari Stadion Olympico. Kota Abadi telah dijuluki "Stab Kota" oleh media Inggris setelah tingginya jumlah Penusukan yang telah terjadi terhadap penggemar Engish perjalanan di sana. Para Ultras Roma pakaian terorganisir dan tanggal kembali ke 1960-an. Selama waktu ini ada beberapa faksi kecil burik seluruh Stadion Olympico.

     Kemudian pada tahun 1977 semua fraksi datang bersama di bawah nama Commando Ultra kurva Sud (juga dikenal sebagai CUCS). Ultras kelompok ini menjadi salah satu yang paling terorganisir di Eropa pada tahun 1980-an menciptakan tampilan visual yang luar biasa di dalam stadion.Namun pada tahun 1987 kelompok itu mulai pecah dan kelompok-kelompok baru mulai terbentuk Roma kini memiliki banyak kelompok yang berbeda ultras.  


Roma memiliki saham di sana wajar air mata up selama bertahun-tahun.  Pada tahun 1979 selama derby Roma, Lazio fan Vincenzo Paparelli tewas setelah dipukul dengan sebuah suar darurat yang dipecat langsung dari kurva Sud.
Selama tahun 2004 rumor derby tersebar di kalangan penggemar Roma bahwa seorang anak telah dibunuh oleh polisi di luar stadion memaksa meninggalkan pertandingan setelah hanya 4 menit. Kerusuhan pecah di tribun dan kembang api banyak dan flare sedang berangkat.  Tiga anak laki-laki atas Roma kemudian menyerbu ke lapangan untuk berbicara dengan Francesco Totti dan menuntut bahwa permainan ditinggalkan. Totti meminta untuk permainan yang akan dibatalkan dan kemudian mengklaim di TV ia telah diancam dengan hidupnya. Pertandingan itu ditinggalkan tetapi berdiri dibakar sebagai polisi menggunakan gas air mata untuk memukul mundur serangan tersebut.
Lebih dari 170 orang luka-luka termasuk petugas polisi sebagai kerusuhan pecah di sekitar jalan di sekitar stadion.  Mobil-mobil dibakar, toko-toko telah ada jendela pecah sebagai pertempuran berkobar di sekitar luar stadion. Mengapa permukaan rumor? Jadi ultras bisa menunjukkan betapa kuatnya mereka.

 Tahun 1984 final Piala Eropa diadakan di Roma dan antara Roma dan Liverpool. Roma kehilangan pertandingan di sana halaman belakang sendiri adalah untuk menelan pil pahit. geng besar berkeliaran di jalanan memetik dari kelompok penggemar Liverpool, beberapa dari mereka hanya keluarga yang membuat ada cara kembali ke sana hotel.  Satu anak laki-laki berusia 13 tahun diserang dengan parang dan diperlukan lebih dari 200 jahitan.  Puluhan fans Inggris ditikam & dipukuli dan tidak memberikan perlindungan dari polisi atau pihak berwenang. Banyak penggemar Liverpool harus mencari perlindungan di Kedutaan Inggris. Peristiwa tersebut menjadi katalis bagi apa yang terjadi di Heysel tahun berikutnya antara Liverpool dan Juventus.

Derby della Capitale



the Derby della Capitale yang juga dikenal dengan sebutan il Derby Della Capitale, Derby del Cupolone, atau The Rome Derby dalam bahasa Inggris, adalah pertemuan antara tim sepak bola yang berbasis di ibu kota Italia, Roma. SS Lazio dan AS Rioma adalah kedua tim yang dimaksud.
Pertandingan ini telah dinilai sebagai derby paling sengit di Italia dibandingkan derby lokal lainnya seperti Derby della Madonnina (Milan) dan Derby della Mole (Turin), dan telah menjadi salah satu derby ibu kota terbesar dan terpanas di Eropa. Hal ini secara historis telah ditandai dengan kehadiran massa yang besar di stadion, panasnya persaingan, dan tentu saja kekerasan seperti aksi rasis saat pertandingan yang terjadi akhir-akhir ini.
Dua insiden ekstrim telah meninggalkan jejak buruk pada sejarah derby ini. Pada tahun 1979, seorang pendukung Lazio, Vincenzo Paparelli dipukul di bagian mata dan terbunuh oleh mercon yang ditembakkan oleh seorang pendukung Rioma dari ujung stadion. Ia menjadi korban tewas pertama akibat kekerasan di sepak bola Italia, pada derby berikutnya para ultras Lazio membalas dengan membunuh fans Rioma.Pada tahun 2004 sebuah peristiwa yang tak terduga terjadi ketika pendukung ultras Rioma memaksa permainan untuk ditunda setelah tersebar desas-desus palsu bahwa seorang anak telah dibunuh oleh polisi sebelum awal permainan.
Dalam derby terakhir pada bulan Desember 2009 musim lalu, wasit juga terpaksa harus menghentikan pertandingan selama sekitar tujuh menit pada saat pertandingan masih berjalan 13 menit di babak pertama. Pemicunya adalah kembang api yang dilemparkan ultras Lazio ke dalam lapangan.
Pendukung Lazio saat derby Roma
 
RIVALITAS YANG SUDAH MENJADI KEBUDAYAAN
Penduduk Roma sepertinya ingin mengatakan kepada dunia bahwa Derby della Capitale lebih dari sekedar permainan. Klub AS Rioma didirikan sebagai hasil penggabungan dari tiga tim, Roman, Alba-Audace dan Fortitudo, yang merupakan perintah dari rezim fasis yang berkuasa dan diprakarsai oleh Italo Foschi. Hal itu disengaja oleh diktator fasis Benito Mussolini untuk membuat sebuah klub asal Roma yang kuat untuk menantang dominasi klub utara. Namun berkat pengaruh salah satu Jendral Fasis, Giorgio Vaccaro, Lazio memberanikan diri menjadi satu-satunya tim utama dari Roma yang menolak merger tersebut, yang kemudian membuat semacam persaingan dengan AS Roma dari tahun ke tahun.
Pertandingan pertama antara kedua tim diselenggarakan pada tanggal 8 Desember 1929 dan Roma berhasil keluar sebagai juaranya dan persaingan dengan cepat tumbuh di antara kedua tim. Sebenarnya penggemar kedua tim memiliki kesamaan yang dasar yaitu sangat membenci arogansi tim utama Italia bagian utara. Namun karena fakta bahwa Lazio dan Rioma tidak banyak memenangkan piala dibandingkan dengan raksasa dari utara, maka derby ini seperti menjadi pelampiasan bagi mereka untuk membuktikan siapa yang paling dominan di ibukota. Ketidakmampuan mereka untuk dominan di Italia dialihkan untuk menguasai Roma.
Pandangan kedua pendukung yang sempit semakin memperpanas persaingan. Mereka menganggap pertandingan ini sebagai pertempuran antara dua klub untuk memperjuangkan hak untuk mewakili kota-kota di seluruh negara.
Selain itu, penyebab lainnya adalah mengenai asal usul kedua tim. Lazio yang didirikan di distrik Prati pada awalnya berlatih dan bermain di lapangan Rondinella. Sedangkan Roma mulai bermain di Motovelodromo Appio dan kemudian ketika stadion baru mereka selesai dibangun, mereka pindah ke sekitar Testaccio. Hal ini membuat pernyataan ironis, yang dikenal sebagai Sfottò, yang berbicara pada asal usul pendukung kedua tim. Laziale dianggap sebagai orang luar karena mereka diduga berasal dari luar kota Roma. Namun mereka menjawabnya dengan menyatakan bahwa Lazio masuk ke Roma pada tahun 1900, lebih cepat dari AS Rioma yang baru didirikan pada tahun 1927.
Derby Roma juga telah menjadi tempat aksi yang berkaitan dengan politik, sosial dan ekonomi dari beberapa basis pendukung. Kelompok ultras Lazio sering menggunakan swastika dan simbol fasis di spanduk mereka dan mereka telah memperlihatkan perilaku rasis dalam beberapa kesempatan selama pertandingan. Terutama pada derby musim 1998-99 ketika Laziale membentangkan sebuah spanduk berukuran 50 meter bertuliskan, “Auschwitz is your town, the ovens are your houses”. Pemain berkulit hitam dari Roma adalah sasaran dari perilaku rasis dan ofensif tersebut.
Sebuah banner kelompok ultras Lazio juga pernah memajang tulisan “Team of blacks followed by Jews” untuk membalas kelompok ultras Rioma yang sebelumnya mengejek dengan tulisan “Team of sheep followed by shepherds”. Pada tahun 2000 pendukung Lazio menunjukkan dukungan mereka untuk kelompok nasionalis Serbia dan penjahat perang Arkan.
Secara resmi, pihak klub telah menjauhkan diri dari pendukung-pendukung semacam ini, yang membentuk kelompok-kelompok minoritas bergaris keras, dan berjuang untuk memerangi tindakan-tindakan mereka yang merugikan.

KERIBUTAN DI MUSIM SEMI 2004
Derby pada tanggal 21 Maret 2004 terpaksa harus terhenti pada empat menit memasuki babak kedua, dengan skor sementara 0-0, ketika huru-hara pecah di tribun penonton dan presiden Liga Sepakbola Italia, Adriano Galliani, memerintahkan wasit Roberto Rosetti untuk menangguhkan pertandingan.
Kerusuhan, yang diwarnai saling melempar kembang api, dimulai dari penyebaran desas-desus bahwa seorang anak laki-laki tewas tertabrak mobil polisi di luar stadion. Cerita ini cepat menyebar ke para pemain ketika tiga pemimpin kelompok ultras LAZIO berjalan memasuki lapangan untuk berbicara dengan Francesco Totti, kapten Roma. Mereka mengancam Totti, yang terdengar di siaran TV sebagai sebuah ancaman kematian. Totti kemudian meminta untuk menghentikan pertandingan, dan Adriano Galliani yang dihubungi oleh wasit melalui telepon selular dari lapangan akhirnya memerintahkan permainan ditunda.
Setelah itu pertempuran berkepanjangan antara para penggemar dan polisi pun terjadi, beberapa stan yang berdiri dibakar dan orang-orang berlarian keluar stadion. Kerusuhan akhirnya berakhir dengan 13 orang diamankan dan lebih dari 170 polisi mengalami luka-luka. Polisi terpaksa harus memakai gas air mata setelah penggemar terus-terusan melempar kembang api dan mulai membakar mobil dan sepeda motor di luar stadion.
Ternyata rumor kematian anak yang menjadi pemicu kerusuhan itu adalah palsu. Banyak teori muncul untuk menjelaskan mengapa sekelompok ultras menginginkan permainan saat itu dihentikan. Diyakini bahwa ultras hanya ingin menyerang polisi, dan memberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan kekuasaan mereka.
Pertandingan itu diulang pada tanggal 28 Maret dan berakhir imbang 1-1 tanpa terjadi masalah. Hasil imbang tersebut membuat Rioma telah menyia-nyiakan kesempatan terakhir mereka untuk mengejar pemimpin Serie A saat itu AC Milan.

Fans Juventus



3
CURVA SCIREA
3
Kelompok superter sejati Juventus yang pertama muncul di pertengahan tahun 70-an. Saat itu ada dua kelompok tifosi sayap kiri dan organisasinya masih belum bagus. Dua kelompok itu adalah Venceromos dan Autonomia Bianconera. Lalu di tahun 1976 terbentuklah 2 kelompok suporter ultras sejati Juve, Fossa Dei Campioni dan Panthers. Baru setahun kemudian kelompok tifosi ultras yang legendaris berdiri, Fighters. Kelompok ini diprakarsai oleh Beppe Rossi. Beliau merupakan tokoh yang sangat berpengaruh bagi seluruh tifosi Juve dan menjadi panutan para ultras muda di Turin.
FIGHTERS
3
Awal era 80-an kelompok-kelompok suporter baru bermunculan. Gioventu Bianconera, Area Bianconera, dan Indians adalah beberapa diantaranya. Dua kelompok ultras yang ekstrim juga berdiri di periode ini, Viking dan Nucleo Armato Bianconero (N.A.B). Dua kelompok ini benar-benar menjadi grup tifosi yang dihormati di dalam dan di luar Delle Alpi. Viking dan N.A.B adalah kelompok yang benar-benar mengingatkan orang pada kata hooligans. Itu dikarenakan mereka tidak pernah takut bertempur dengan supporter klub manapun di dalam atau di luar stadion. Tahun 1983 kelompok Juventini yang berbeda dibentuk untuk menjalani partai tandang pertama mereka ke Eropa (Liege, Belgia tahun 1983).
ARANCIA MECCANICA
3
Tahun 1987 kelompok tifosi bersejarah Fighters akhirnya dibubarkan setelah berjaya selama 10 tahun. Penyebabnya saat itu karena terjadi banyak kekerasan dan perkelahian dalam partai tandang ke Florence, melawan rival Juve, Fiorentina. Sebagian besar anggota Fighters lama, bersama dengan anggota Indians dan Giuventu Bianconera, membentuk sebuah kelompok supporter ultras yang baru, Arancia Meccanica (Clockwork Orange). Nama ini terinspirasi oleh film Stanley Kubrick berjudul sama yang populer saat itu.Nama itu menimbulkan kesan kekerasan dan negatif sehingga menimbulkan banyak masalah. Karena itu kelompok ini dipaksa untuk merubah nama kelompok mereka. Para fans sepakat untuk membodohi politisi kota Turin dengan merubah nama kelompok mereka menjadi Drughi. Drughi merupakan nama geng dimana tokoh utama film Clockwork Orange, Alex, bergabung. Lucunya, para politisi Turin terlambat menyadari hal ini. Drughi pun berkembang dan menjadi kelompok supporter terpenting dalam sejarah Juventus. Dalam kurun waktu antara 1988 sampai 1996 Drughi memiliki 10.000 anggota.
DRUGHI
3
Pada tahun 1993 beberapa anggota Drughi memperoleh otonomi dan menghidupkan kembali kelompok tifosi lama, Fighters. Empat tahun setelahnya Fighters dan Drughi bersaing untuk menjadi yang terbaik di La Curva Scirea. Drughi menggantung banner mereka tepat ditengah La Curva Scirea Delle Alpi, sedangkan Fighters harus memasang banner mereka di sebelah kanannya.Setelah Juve memenangkan Piala Champions atas Ajax tahun 1996, para supporter sangat bergembira dan memutuskan untuk berkolaborasi. Drughi, Fighters, dan beberapa kelompok kecil lainnya di La Curva Scirea memutuskan untuk bersama mendukung Juve dibawah satu nama, Black and White Fighters Gruppo Storico 1977. Nama Fighters pun memperoleh kembali kejayaan seperti awalnya tepat 20 tahun sejak kelompok supporter itu berdiri.
CURVA NORD
3
Di era 90-an satu lagi kelompok besar supporter terbentuk. Namanya Irriducibili Vallette. Kelompok ini mempunyai pengaruh besar di La Curva Nord Delle Alpi. Grup ini dibentuk pada 1990 oleh sebuah kelompok supporter dari Vallette Turin. Karena anggotanya banyak yang kena sanksi dan sulit bekerjasama dengan manajemen Juventus, Irriducibili dibubarkan pada akhir musim 2001/02.
IRRIDUCIBILI
3
Memulai musim 2002/03 direksi Juve memutuskan untuk memberikan La Curva Nord pada Centro Coordinamento Juventus Club. Ini adalah organisasi yang terdiri dari berbagai fans club resmi di Italia dan luar negeri. Lebih dari 1000 klub jumlahnya. Untuk itu manajemen bermaksud memindahkan semua kelompok ultras dari La Curva Nord, dan melarang mereka memasang banner di area itu. Proyek ini menjadi sebuah kegagalan besar bagi direksi Juventus.La Curva Nord sekarang menjadi bagian paling sepi di Delle Alpi. Nyanyian supporter yang ada disana pun hampir tak terdengar. Tiadanya kelompok supporter yang memimpin di La Curva Nord adalah penyebabnya.Selama bertahun-tahun Juve memiliki dukungan luar biasa di dua curva yang siap mengumandangkan pujian bagi La Vecchia Signora. Merupakan hal yang langka di Italia maupun belahan dunia lainnya, dimana sebuah klub mempunyai dua basis tifosi yang berada di belakang dua gawang. Ini menciptakan atmosfer yang luar biasa bagi tim saat bertanding. Tifosi cemas akan apa yang akan terjadi kelak setelah stadion diperbarui. Apakah mereka masih bisa menempati dua curva itu atau manajemen Juventus akan meneruskan proyek gagalnya?
Irriducibili Valente sudah tidak ada lagi sejak tahun 2002. Tempat mereka sebelumnya ada di ujung lain, berhadapan dengan kelompok Fighters, yaitu di La Curva Nord.Terbentuk tahun 1990, mereka adalah kelompok supporter yang terorganisasi dengan rapi. Tahun 1998 mereka menggantikan Viking sebagai penguasa La Curva Nord. Masalah mulai timbul di awal musim 2001/02. Irriducibili mengkritik keras kepemimpinan Lippi dan hasil buruk yang diperagakan skuad Juventus awal musim itu. Akibatnya manajemen Juve menolak memberikan tiket away bagi mereka. Suasana pun semakin memanas.Irriducibili kemudian berdamai dengan Lippi, namun masih menolak berbicara dengan klub atau vice versa. Setelah banyak masalah yang terjadi, Irriducibili Vallette pun dibubarkan. Sangat disayangkan karena mereka telah melakukan yang terbaik bagi Juventus. La Curva Nord sekarang bernama “Centro Juventus club, 1000 club per una curva”. Itu berarti kurva utara akan ditempati oleh 1000 fans klub berbeda di dalamnya.Irriducibili Vallette juga memberi perubahan besar bagi para pendukung Juve. Revolusi yang bertujuan untuk menjadikan atmosfer stadion menjadi lbih mendukung bagi Juventus. Mereka berambisi menjadi kelompok tifosi nomor satu di Italia. Banner Irriducibili selalu hadir dimanapun Juve bertanding. Simbol mereka adalah “tangan saling bergandengan mengelilingi dunia”. Seperti Fighters, Irriducibili Vallette juga terdiri dari beberapa bagian. Dua kelompok dari Swiss, Zurigo dan Lugano bersama dengan Ponente, Marche, dan Milano dari Italia. Grup ini menyatakan diri tidak berpolitik dan memiliki fanzine sendiri, Numero Uno.
NOI SOLI
3
Noi Soli dibentuk musim 2002/03 oleh mantan anggota kelompok ultras bersejarah, Viking dan N.A.B. Nama Noi Soli berasal dari tulisan di belakang scarf Viking N.A.B yang berarti “Hanya Kami” atau “Kami Sendiri”. Kelompok ini dibentuk oleh 10 orang, dan selama 2002/03 Noi Soli menempatkan diri di La Curva Nord. Kelompok ini mengawalinya dengan keras dan beradu argumen dengan beberapa grup pecahan Irriducibili Valette saat partai Juventus vs Newcastle.Setelah satu musim yang berat, Noi Soli terus pantang menyerah. memulai 2003/04 anggotanya telah bertambah menjadi 52 orang. Mereka diizinkan oleh Fighters untuk memasang banner mereka di lantai pertama La Curva Scirea, tepat di sebelah banner Nucleo. Hubungan dua klub supporter itu berlangsung baik. Noi Soli mempunyai jumlah pendukung yang lumayan banyak di setiap pertandingan Juve musim itu. Simbol mereka adalah Warrior, pejuang, yang merefleksikan mereka sebagai pejuang yang mengikuti Juventus. Noi Soli menyukai seragam Juve dan target mereka adalah mendapat citra yang bagus di seluruh Italia.
VIKING
3
Kelompok bersejarah ini berdiri kembali dan kini mereka menjelajahi stadion-stadion Italia. Mayoritas mantan anggota kelompok supporter ini berreuni tahun 2003 dan sepakat untuk menghidupkan kembali grup ultras bersejarah ini. Anggotanya kini hampir sama seperti sebelumnya, kecuali empat pemimpinnya yang kini tak lagi menjadi bagian dari grup. Empat pemimpin itu bertengkar satu dengan lainnya karena masalah ekonomi dan merusak suasana grup. Meskipun banner Viking masih sama dengan yang lama, tetapi karena hubungan buruk dengan polisi dan klub, mereka cuma memasang banner di pertandingan away. Mereka dilarang menampilkannya di Delle Alpi.Viking mencoba menguasai kembali La Curva Nord, tapi klub dan polisi tidak mengizinkannya.Kelompok superter terbesar, Fighters sempat mengundang mereka untuk bergabung ke La Curva Scirea agar kedua kelompok ini berhubungan baik dan bersama mendukung Juventus.Mantan pemimpin Viking kabarnya tidak suka menyadari kalau kini Viking bersahabat dengan rival mereka, Fighters. Namun jaman telah berubah. Viking tidak memiliki kekuatan dan anggota seperti ketika berjaya selama 10 tahun dahulu. Mereka bahkan harus berkolaborasi dengan kelompok-kelompok kecil lain untuk survive. Dulu mereka disegani baik oleh sesama supporter juve maupun supporter lawan, oleh klub maupun polisi. Irriducibili Vallette bisa menguasai La Curva Nord hanya setelah Viking pecah tahun 1998.Viking terpecah karena masalah internal dan masalah karena banner curian. Viking merupakan kelompok paling radikal, paling ditakuti, dan penuh muatan politis dalam sejarah Juventus. Kelompok ini didirikan oleh anak-anak muda dari Milano. Mereka lalu berkerjasama dengan N.A.B yang beranggotakan tifosi dari Pavia dan Genoa. Orang salah menyebut mereka Viking N.A.B ketika ada 10 orang anggota N.A.B bergabung dengan Viking. Namun anggota kelompok ini selamanya menyebut mereka sendiri Viking.
BRUXELLES BIANCONERA
3
Dibentuk tahun 2001, Bruxelles Bianconera menambah warna baru di La Curva Scirea. Orang-orang Belgia ini berkelana ke seluruh Eropa kemanapun Juve bertanding. Tidak ada fans Juve lain yang pernah berjalan sejauh yang dilakukan kelompok ultras ini.Bruxelles Bianconera terkenal diantara tifosi Juve lainnya dan kini mereka pun dihormati. Mereka terkenal atas atas apa yg telah mereka lakukan untuk terus mengingat tragedi Heysel. Bruxelles Bianconera memiliki tempat di Brussels, Charleroi, Mons, Liege dan Luxembourg. Musim 2004/05 Bruxelles Bianconera menempatkan banner mereka di tingkat pertama La Curva Scirea bersama Noi Soli dan Nucleo Armato Bianconero. Musim 2005/06 banner mereka dipindah ke tingkat tiga bersama Nucleo

Jumat, 30 September 2011

Mengangkat Kisah Lama : Gabriele Sandri


Upacara pemakaman Gabriele

Menjelang pertandingan di giornata 12, Gabriele “Gabbo” Sandri, Laziale (tifosi klub Societa Sportiva (SS) Lazio) berumur 26 tahun yang juga seorang disc jockey tenar di Roma, menjadi korban kesekiankali dari ganasnya kompetisi calcio. Sandri terkulai di dalam mobilnya di jalan bebas hambatan Badia al Pino Arezzo setelah peluru dari pistol Beretta 92 caliber 9 mm milik seorang polizia bernama Luigi Spaccararotella “nyasar” menembus lehernya.

Polizia: Common Enemy Solidarity
Terbunuhnya suporter karena peluru polisi pada akhirnya menimbulkan berbagai spekulasi. Pasca meninggalnya Sandri pun berkembang prasangka bahwa terdapat upaya rekayasa dari pihak polizia untuk membalas dendam pada kelompok suporter. Akibatnya sungguh fatal, kematian Sandri memancing reaksi kemarahan & menumbuhkan solidaritas antar suporter, yang berbeda aliran politik dan klub favorit, di seantero Italia juga di berbagai negara yang lain.



Menurut kantor berita ANSA, di banyak kota seperti Bergamo, Milan, Parma, Roma, Taranto dan Turin, para suporter terutama yang militan dan berhaluan keras (ultra) meledakkan kemarahannya pada polisi.

Di Bergamo, ultras Atalanta dan AC Milan mengabaikan rivalitas diantara mereka dan menjadikan polisi sebagai musuh bersama. Mulanya, membuat keributan kecil diluar lapangan, kemudian memaksa wasit Massimiliano Saccani untuk menghentikan pertandingan yang baru berjalan tujuh menit dengan melemparkan berbagai benda ke lapangan, dan memecahkan barikade kaca yang memisahkan tribun dengan lapangan.

Situasi tak lebih baik terjadi di ibukota Italia, seperti yang diwartakan oleh majalah World Soccer edisi Desember 2007. Meski pertandingan AS Roma vs Cagliari dibatalkan para pendukung banyak yang datang ke stadion Olimpico untuk protes. Sekali lagi, suporter AS Roma dan SS Lazio mengesampingkan rivalitas mereka dan memusatkan amarah mereka pada dua titik strategis yaitu markas Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI) dan kantor polisi terdekat. Dengan berbekalkan pentungan dan memakai topeng, ratusan orang membakar tempat sampah, bus polisi dan beberapa kendaraan. Di akhir kekacauan empat orang ultras ditahan, 70 polisi terluka, dan estimasi kerugian mencapai £75,000.

Di kota Mediolanum era modern, Milano, ratusan massa suporter menghujani kantor polisi dengan aneka batu. Sandri solidarity juga membuat ultras SS Lazio dan Internazionale Milan kompak meneriakkan slogan anti-polisi di luar stadion. Para penonton pertandingan Siena vs Livorno, serempak menyerukan kata 'pembunuh' kepada polisi dan petugas keamanan.

Moment moment mengharukan dari keluarga gabriel sandri

Beberapa moment yang menunjukkan respect terhadap gabriel sandri dari beberapa ultras di eropa:










Pertandingan DERBY paling panas di Dunia

Banyak banged pertandingan bola yang udah kita liat setiap musimnya. Dan diantaranya ada pertandingan yang ngelibatin 2 klub dalam sekota. Yappsss.... ni pertandingan sering disebut dengan DERBY. Sebagaimana kita tau... kalo pertandingan derby tu h yang panas gak cuman yang maen doank... tapi dah merasuk ama suporter2 mereka. Bahkan rasa permusuhan antar pendukung klub sekota sudah nyaris ke tahap hooliganisme. Berikut ni beberapa DERBY Sepak bola yang mencuri perhatian gibol dunia
pendukung as roma
AS Roma vs Lazio
Pada tahun 1977, kelompok minoritas dari fans AS Roma membentuk CUCS (Commando Ultra Curva Sud). N menjelang musim 1999/2000,ni kelompok CUCS berevolusi menjadi ultras Roma. Di lain pihak pendukung Lazio yang menyebut dirinya Commandos Monteverde Lazio muncul pada tahun 1971. Pada tahun 1987 mereka bersatu dengan kelompok lain dan membentuk kelompok yang disebut The Irriducibili. Sejak tahun 1992, The Irriducibili Lazio kelompok pendukung yang paling menonjol. Secara garis besar, Roma ultras mewakili kelas menengah sayap kiri dari pusat kota Roma. N Sebaliknya, The Irriducibili kaya merupakan penduduk pinggiran sayap kanan kota Roma. Kedua fans Lazio dan AS Roma ini saling berbagi tempat di stadion yang sama, Stadion Olimpico. Inilah panggung pertempuran paling panas di kota Roma.


Manchester City vs Manchester United

City dan United telah merupakan salah satu perseteruan paling klasik di Eropa. Kedua klub yang didirikan pada akhir abad 19. Pertemuan di tahun 1993 antara City dan United di Maine Road dianggap salah satu permainan EPL terbesar tahun 90an. United memenangkan pertandingan 2-3 berkat dua gol oleh Cantona dan dan gol telat Keane.
Stretford End di Old Trafford adalah tempat untuk diehard K-Stand fans club.Manchester City juga memiliki penggemar yang tidak kalah fanatiknya.Menjelang akhir kompetisi musim 2001/2002, 106 Fans City ditangkap karena berbuat onar. Ini salah satu penangkapan ketiga terbesar di Inggris untuk urusan suporter bola. Kebanyakan kericuhan suporter di Inggris tidak terjadi di stadion, melainkan kebanyakan terjadi di Bar-bar yang merupakan tempat mereka kongkow setelah nonton bola....


AC Milan vs Internazionale
Baik AC Milan dan Internazionale FC memainkan pertandingan mereka di Stadion San Siro. The Curva Sud adalah rumah bagi Rossoneri dan Curva Nord milik Inter. Kedua klub memang bersaing di kompetisi baik Seri A maupun di Kompetisi Eropa. Secara koleksi gelar, Milan memang berada diatas Inter, Namun beberapa taun terkahir ini Inter lebih berjaya di Seri A.


Red Star vs Partizan
F ans Serbia sangat dipengaruhi oleh ultras Italia meskipun mereka dipengaruhi ama budaya setempat. Di Belgrade, Serbia saat ini, ada sebuah persaingan sengit antara Partizan dan Red Star. Red Star merupakan klub juara Eropa dan Dunia di taon 1991. Pendukung kedua klub mempunyai riwayat permusuhan yang parah. Banyak banged terjadi perkelahian antar dua suporter, baik di dalam maupun di luar stadion.


Levski vs CSKA
Ibukota Bulgaria Sofia merupakan rumah bagi dua klub PFC Levski 1914 dan CSKA. Levski, yang lebih tua dua tain , memiliki basis penggemar yang lebih besar sedangkan CSKA merupakan pengoleksi juara terbanyak. Setiap kali kedua klub bertemu, pihak kemanan selalu memperketat pengamanan pertandingan. Dalam salah satu pertemuan mereka, 1/7 militer negara itu dikerahkan untuk mengatasi potensi kekerasan. Pihak berwenang telah berhati-hati terutama sejak tahun 2001 ketika sebuah insiden bom meledak dan berakibat sangat fatal.




FC Celtic vs Rangers

Skotlandia memiliki kisah hooliganisme yang sangat mengakar. Polisi setempat sekarang ini sudah melakukan pengamanan di setiap pertandingan. Tapi selalu saja terjadi insiden kisruh. Suporter Aberdeen, Celtic dan Glasgow Rangers selalu dihubungkan dengan terjadinya tindak kekerasan. Dua klub terakhir (Celtic dan Rangers) memang selalu menjadi sorotan karena ulah suporternya. Inilah perseteruan dua kelompok suporter yang dilatar belakangi masalah sosial dan agama.


Olympiakos vs Panathinaikos
Athena merupakan arena pertempuran bagi dua klub yaitu Olympiakos dan Panathinaikos. Inilah persaingan terbesar di Liga Yunani. Hooliganisme sering terjadi setiap dua tim bersua. Suporter kedua kubu selalu berkelahi, melempar kembang api dan melempar kursi. Fans Olympiakos terkenal fanatik. Mayoritas mereka berasal dari kaum miskin di kota Athena. Sedangkan Fans Panathinaikos banyak dari kalangan yang kaya.


Boca vs River Plate
Inilah Derby terbesar di Argentina. Boca vs River Plate. Kedua klub didirikan di daerah miskin di Buenos Aires bernama LaBoca. Pada 1930, River Plate pindah ke tempat yang bernama Nunez yang kini dihuni masyarakat kelas menengah ke atas. Disisi lain Boca memiliki basis fans yang lebih besar dan sebagian mereka berasal dari kalangan pekerja.

Persahabatan Lazio-Inter

Sebuah Catatan Panjang Sejarah dan Kejadian Dramatis



Stadio Giuseppe Meazza, San Siro, Milano, 23 April 2011. Menjelang laga Inter vs Lazio di pekan-pekan terakhir yang krusial di Serie A musim 2011/2012. Lazio sedang bersaing keras dengan Udinese untuk mengamankan tempat di UCL dan Inter sedang berjuang keras menghidupkan asa scudetto yang hampir pasti diraih AC Milan. Ketika kedua tim memasuki lapangan, dari salah satu bagian stadion puluhan flare warna biru langit dinyalakan, disusul pekikan ribuan orang: “A Roma Ce Solo Lazio” atau “Di Kota Roma Hanya Ada Lazio”. Kita yang hanya menyaksikan lewat televisi tentu mengira itu adalah ulah suporter Lazio. Sebenarnya bukan, flare dan teriakan itu justru dilakukan dari Curva Nord Stadio GM oleh puluhan ribu Interisti yang tergabung dalam Boys SAN dan beberapa kelompok ultras Inter lainnya. Baru setelah itu dari sisi Irriducibili Lazio dinyalakan flare warna biru gelap (warna Inter) dan para Laziali meneriakkan “Forza Inter Ale”. Itu adalah ritual selamat datang dari Interisti untuk Laziali dan tanda persahabatan Laziali bagi Interisti. Ritual itu sudah berusia lebih dari satu dekade sejak kedua kelompok suporter ultras menjalin gamellaggio (twinning, persaudaraan). Di Stadio Olimpico, ritual dilakukan sebaliknya. Irriducibili Lazio menyalakan flare biru gelap disertai teriakan “Forza Inter Ale” dan dibalas oleh Interisti dengan flare biru langit dan teriakan “A Roma Ce Solo Lazio.”
Mengapa kita bersahabat dengan Lazio? Karena sama-sama menempati Curva Nord? Dan mengapa Lazio berseteru dengan AS Roma? Karena menghuni kota yang sama? Itu memang salah satu alasan tetapi latar belakang sesungguhnya adalah sebuah sejarah panjang dan kompleks, dimulai bahkan dari saat awal eksistensi kedua klub itu.
Takdir Mulai Saat Kelahiran
SS Lazio dibentuk tahun 1900 oleh para politisi dan usahawan berhaluan politik kanan dan anti-Yahudi serta berbasis pendukung kaum terpelajar dan kalangan menengah-atas Roma. Kelompok berhaluan serupa juga lah yang mendirikan Inter saat melepaskan diri dari AC Milan tahun 1908.
Saat diktator fasis Benito Mussolini berkuasa di Italia, dia memerintahkan semua klub di kota Roma di-merger menjadi AS Roma tahun 1927. Semua mematuhi, kecuali SS Lazio yang menentang dan tetap berdiri sendiri. AS Roma dikuasai oleh golongan kiri dan didukung oleh kelas buruh dan masyarakat Yahudi (kelompok serupa yang mendukung AC Milan). Di kota Milan, Mussolini melakukan hal yang sama, dan Inter melakukan penentangan yang sama sehingga sementara harus berganti nama menjadi Ambrosiana Milano. Sejarah awal ini telah menyemai ikatan antara SS Lazio dan Inter serta menempatkan AS Roma dan AC Milan pada pihak yang berseberangan. Lokasi yang sama di Curva Nord (Lazio dan Inter) dan di Curva Sud (AS Roma dan AC Milan) makin mempertajam perbedaan ini. Dan, tentu saja, faktor lokasi di Kota yang sama menjadikan persaingan Lazio-Roma menjadi semakin memanas. Lazio dan pendukungnya merasa sebagai yang pertama di Roma, sedangkan AS Roma menganggap dirinya satu-satunya klub yang menyandang nama kota.
Persaingan ini sedemikian panasnya, sehingga Derby della Capitale (SS Lazio vs AS Roma) dinobatkan sebagai derbi paling panas di Italia bahkan di Eropa, melebihi Derby della Madoninna (Inter vs Milan), Derby Manchester (MU vs Manchester City) bahkan mengungguli El Classico (Barcelona vs Madrid). Kalau Interisti dan Milanisti hanya panas di dunia maya tetapi bersahabat di dunia nyata, Laziali dan Romanisti berseteru dalam arti sebenarnya, di dunia maya maupun di dunia nyata. Hampir tak pernah terjadi Derby della Capitale tanpa kerusuhan. Tercatat beberapa nyawa melayang dan ratusan orang telah terluka karena derbi ini. Derby della Capitale adalah “neraka” sepakbola Italia.
Gamellaggio Lazio-Inter
Persaudaraan ini terjadi sepanjang sejarah. Tak pernah ada catatan insiden antara Laziali dan Interisti. Kesamaan aliran politik dan basis pendukung membuat kedua kelompok suporter ini selalu rukun. Gamellaggio secara formal terjadi saat kedua suporter bertemu dalam final UEFA Cup tahun 1998 di Paris yang dimenangkan Inter dengan 3-0. Sikap ksatria Irriducibili Lazio dan sikap simpatik Boys SAN Inter membuat kedua suporter mendapatkan penghargaan fair play dari UEFA. Dan saat itu tercapailah kesepakatan persaudaraan antara Laziali dan Interisti yang makin menguat hingga hari ini.
Inilah beberapa kejadian unik yang menunjukkan eratnya gamellagio Lazio-Inter:
Nasib Tragis Zaccheroni, 5 Mei 2002
Pada pertandingan giornata 34 musim 2001/2002 tanggal (match terakhir, karena saat itu Serie A hanya berisi 18 tim), terjadi peristiwa yang unik di Stadio Olimpico pada laga Lazio vs Inter. Saat itu Inter di ambang juara karena cukup dengan mengalahkan Lazio maka mereka akan meraih scudetto mengungguli Juventus. Maka Laziali di Stadio Olimpico, dimotori Irriducubili Lazio mendukung Inter habis-habisan dan meminta Lazio kalah, agar yang mendapatkan scudetto Inter, rival Lazio: Juventus. Sayangnya malam itu para punggawa Nerazzurri gagal meraih scudetto yang sudah di depan mata, kalah 2-4 dari Biancoceleste. Dan Juventus merebut scudetto dengan 71 poin, diikuti Roma dengan 70 poin. Inter sendiri di posisi ketiga dengan 69 poin. Akibat kejadian ini, Irriducibili Lazio mendemo manajemen Lazio dan meminta allenatore Lazio, Alberto Zaccheroni dipecat. Zaccheroni pun akhirnya mengundurkan diri. Dia dimusuhi Laziali justru karena timnya memenangkan laga. Ironis, tapi itulah jiwa Irriducibili Lazio: persahabatan dan solidaritas ditempatkan di atas sepak bola itu sendiri.

Stadio Giuseppe Meazza Tanpa Banner dan Flare, 15 November 2007

Empat hari sebelumnya, seorang DJ terkenal di kota Roma, Gabriele Sandri, seorang pendukung ultras Lazio, menjadi korban tak berdosa dalam kerusuhan antara sekelompok suporter anarkis Juventus dan kepolisian kota Roma. Sandri tertembak di bagian belakang kepalanya oleh polisi. Kerusuhan pun meledak, menuntut keadilan. Tidak hanya karena para Laziali menyerang kantor polisi Roma, tapi juga di Milano, oleh Interisti menyerang kantor polisi Milano, menunjukkan solidaritasnya. Untuk menghormati Sandri, Inter menunda sehari pertandingan Inter vs Lazio di Stadio Giuseppe Meazza yang seharusnya digelar 14 November. Saat pertandingan berlangsung, Boys SAN Inter memprakarsai mengheningkan cipta selama 5 menit di stadion untuk menghormati Sandri. Dan malam itu, di Curva Nord Giuseppe Meazza, tempat para Interisti, sama sekali tidak terlihat sepotong pun spanduk, banner ataupun sebuah flare pun yang mereka nyalakan. Kelompok-kelompok ultras Inter hanya membentangkan sebuah spanduk besar dengan tulisan warna biru langit berlatar belakang biru gelap bertuliskan: “Gabriele Sandri, Kau Akan Selalu Berada di Hati Kami”.


Korban Berikutnya, Jersey No 12 SS Lazio, Minggu, 2 Mei 2010


Stadio Olimpico Roma dipenuhi pendukung Lazio dan Inter yang menantikan pertandingan Serie A giornata 36 musim 2009/2010. Pertandingan ini sangat menentukan bagi kedua tim. Bagi inter, memenangi pertandingan ini akan mempermudah meraih Scudetto, dan akan mengambil alih poisisi cappolista dari AS Roma yang sementara unggul 1 poin. Bagi Lazio memenangi pertandingan ini akan lebih mengamankan diri dari kemungkinan degradasi ke Serie B, karena saat itu Lazio berada di posisi 17 dan hanya terpaut 4 poin dari zona merah.
Ritual gamellagio seperti pada pembuka tulisan ini pun dilakukan. Itu hal biasa. Yang luar biasa adalah banyak bendera Inter dan spanduk-spanduk pemberi semangat bagi Inter dikibarkan oleh Irriducibili Lazio. Yang paling mencengangkan tentu saja sebuah spanduk para Laziali yang ditujukkan kepada para pemain Lazio sendiri: "Kalau sampai menit ke 80 Lazio unggul, kami akan masuk ke lapangan!" Spanduk ini disita polisi tak lama kemudian tetapi muncul spanduk-spanduk lain yang tak kalah mengerikan: "Nando (maksudnya Fernando Muslera), biarkan bola melewatimu, dan kami akan tetap menyayangimu." "Zarate, satu gol saja kau cetak, kami paketkan kau ke Buenos Aires." Rupa-rupanya para pendukung Lazio ingin agar Inter mengalahkan timnya malam itu, untuk melicinkan jalan Inter menuju scudetto. Mereka lebih memilih risiko Lazio turun ke Serie B daripada Roma yang memperoleh scudetto.
Suasana pertandingan pun menjadi sangat aneh. Lazio sama sekali tidak memperoleh dukungan fans-nya sendiri walaupun bermain di Olimpico. Sebaliknya Inter sebagai tamu justru memperoleh dukungan luar biasa. Setiap kali pemain Inter menguasai bola, para Laziali berteriak, "Biarkan mereka lewat!" Malam itu portiere Lazio, Fernando Muslera, bermain sangat gemilang. Tak kurang dari 10 penyelamatan luar biasa dilakukannya. Tiap kali Muslera menggagalkan gol Inter, teriakan cemoohan pun berkumandang ke arahnya. Akhirnya pada injury time babak pertama, tandukan Walter Samuel mengubah skor menjadi 0-1. Stadion bergelegar dan muncul spanduk ejekan dari Laziali bertuliskan, "Oh, Noooo Roma!" dan, "Scudetto Game Over, Roma!"
Di babak kedua mental pemain Lazio (kecuali Muslera yang tetap bermain gemilang) pun runtuh. Kesalahan demi kesalahan dilakukan dan membuat Thiago Motta menggenapkan kemenangan Inter menjadi 0-2 di menit ke 70. Di akhir pertandingan, para pemain Lazio meninggalkan pertandingan dengan sedih dan marah karena merasa “dihianati” Laziali. Presiden Roma, Rosella Sensi mengecam habis-habisan ulah Laziali tersebut. Jose Mourinho hanya berkomentar pendek, "Saya belum pernah menyaksikan yang seperti ini." Asisten pelatih Lazio mengakui bahwa anak asuhnya sangat terpengaruh oleh suasana stadion dan tidak bisa menampilkan performa terbaiknya.
Inter akhirnya merebut scudetto 2009/2010 dengan keunggulan 2 poin atas AS Roma. Syukurlah, Lazio mampu memenangi 2 laga sisa, terhindar degradasi dan menempati posisi akhir klasemen di urutan ke 12. Insiden ini membuat presiden Lazio, Claudio Lotito marah besar. Tahun 2003 Lazio memutuskan untuk mengistirahatkan jersey no. 12 sebagai penghormatan pada Irriducibili Lazio sebagai "pemain ke 12". Tetapi karena kejadian ini (ditambah lagi dengan kehadiran politisi lawan Lotito di tribun Irriducibili Lazio beberapa pertandingan sebelumnya) maka jersey no. 12 ditarik kembali dari peristirahatannya dan pada musim 2010/2011 dipakai oleh portiere kedua Lazio, Tomasso Berni. Musim 2011/2012 jersey no 12 dipakai oleh difensore Marius Stankevicius. Satu bukti lagi, bahwa bagi Irriducibili Lazio, persahabatan dan solidaritas adalah yang terpenting.




(Dari berbagai sumber: forum LaCurvaNord, LazioForever, ForzaInterForums, UltrasLazio dan IrriducibiliLazio).
_black_

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More